Harta Karun
Harta Karun . . . . .
Dulu, aku memiliki harta karun. Ya, namanya juga harta karun itu pasti sangat berharga dan mampu membuat kita merasakan kebahagiaan.
Tapi sekarang, aku tidak memiliki harta karun itu lagi. Aku kehilangannya. Bukan karena ada orang lain yang mencuri harta karun itu tapi karena aku tidak menjaga harta karun itu dengan baik. Sebenarnya itu bukan salahku kehilangan harta karun itu, tapi saat ini bukan saatnya atau bahkan memang tidak seharusnya untuk menyalahkan orang lain karena kehilangan berharga milik sendiri. Itu murni karena kesalahan sendiri tidak mampu menjaga harta karun berharganya.
Sempat berharap untuk memiliki harta karun itu, tapi rasanya hanya untuk mendekatinya saja sulit. Dan itu membuat aku ingin memiliki harta karun yang baru yang dapat membuat aku bahagia seperti sebelumnya. Merasakan kebahagiaan dengan harta karun yang baru, juga dapat merasakan kesedihan dengan harta karun yang baru. Harta karun yang baru pada awalnya dapat membuat kebahagiaan dan merasakan “dia berharga bagiku”.
Seiring dengan berjalannya waktu, menyadari, memiliki sesuatu yang baru tidak dapat sama dengan yang lama apalagi jika yang lama sudah dapat membuatmu nyaman dan bahagia.
Ya, harta karun yang baru tidak sama dengan harta karun yang lama. Harta karun yang baru, masih berharga bagiku tapi tidak membuat aku merasa sebagaia sebelumnya. Dan itu membuat aku ingin memiliki kembali harta karun lamaku, yang masih dapat aku lihat tapi tidak dapat memilikinya. Tapi aku, tidak boleh takut kehilangannya. Karena apa?
Karena aku tidak bersamanya.
Seseorang pernah mengatakan padaku,
“Kehilangan tapi ga bisa bareng mah buat apa”.
Itu membuatku tersadar.
Untuk apa aku ingin memilikinya jika aku tidak bersama dengannya.
Untuk apa aku takut kehilangannya jika aku tidak bersama dengannya.
Lalu, untuk apa aku disini jika tidak bisa memiliki dan kehilangan?
Ini bukan tentang rasa cinta pada sebuah harta karun. Ini lebih pada rasa kasih sayang pada sebuah harta karun.
Harta karun baru sudah membuatku merasakan “dia ga berharga lagi bagiku,” sebagian harta karun baruku sudah memiliki “pemilik” yang baru yang lebih baik dariku “sepertinya aku akan kehilangan harta karun lagi.” Tidak, kali ini juga bukan karena ada yang mencurinya tapi itu murni karena aku kehilangannya. Mungkin memang benar, jika aku memang tidak bisa menjaganya dengan baik sebagaimana semestinya.
Jika ini telah terjadi, mungkin aku bisa saja mengambil harta karun lagi karena aku memiliki yang lain. Tapi tidak, aku tidak ingin memiliki harta karun lain lagi. Cukup dengan harta karun yang lama, itu sudah cukup bagiku, sudah sangat cukup. Bukan karena harta karun lain tidak berharga, mereka berharga, hanya saja aku lebih menginginkan harta karunku yang lama. Tidak baik memiliki 2 harta karun bukan? Apalagi dengan tempat yang berbeda. Itu terlalu egois.
Kebahagiaan di masa lalu tidak akan terjadi lagi di masa depan, apalagi dengan orang lain.
Tapi entah bagaimana caraku untuk mendapatkan kembali harta karun lamaku. Untuk mencoba dekat dengannya saja butuh keberanian yang super extra. Mungkin... itu karena hanya aku saja yang menginginkan harta karun itu? Dan harta karun itu tidak ingin kembali ke “pemilik”nya dulu?
Menyedihkan........
“Sulit untuk mendapatkan harta karunnya. Tapi hanya butuh waktu yang sesaat untuk kehilangan harta karun itu.”
“Orang itu tidak berubah, waktulah yang berubah”
Memang benar, tidak ada orang yang berubah karena suatu kejadian. Hanya saja waktulah yang berubah yang dapat membuat seseorang menjadi berbeda (pendapat, kepentingan, keinginan, kebutuhan, dll) dengan seiring berjalannya waktu.

Comments
Post a Comment