Aku


Words : 619

“Jika kau bertanya, siapa orang yang menunggumu. Mungkin jawabannya adalah aku.
Jika kau bertanya, siapa orang yang benar-benar menginginkanmu. Mungkin jawabannya adalah aku.
Jika kau bertanya, siapa orang yang mencintaimu dengan tulus. Mungkin jawabannya adalah aku.
Jika kau bertanya, siapa orang yang tidak ingin kehilanganmu. Mungkin jawabannya adalah aku.
Jika kalian bertanya, siapa orang yang paling egois. Mungkin jawabannya adalah aku.”

*****

Aku berjalan menyusuri taman, berharap jika kau ada disana sedang menungguku. Tetapi itu hanya sebuah harapan, yang jauh dari sebuah kenyataan.
 Aku duduk di bangku taman itu, berharap jika kau juga duduk dibangku itu, disampingku. Tapi itu juga hanya sekedar sebuah harapan.
Aku memang berharap kau ada disini, bersamaku. Tapi saat ini aku tidak sedang menunggumu. Aku sedang menunggu seseorang yang aku cintai. Tetapi jika aku menunggu, kurasa dia tidak akan datang. Sedangkan jika aku datang menghampirinya,  kurasa dia tidak akan suka. 
Aku sangat berharap dia datang menemuiku disini seperti hari-hari sebelumnya. Tanpa harus menunggu dengan sebuah harapan kosong seperti ini. Sebenarnya, aku tau dia pasti tidak akan datang menemuiku disini. Kecuali aku yang datang menemuinya.
Aku tidak yakin kenapa ini dapat terjadi diantara kami. Aku merasa ini tidak adil karena ditinggalkannya secara sepihak. Belum sempat aku mengatakan ‘ya’ untuk berpisah dengannya tapi dia meninggalkanku lebih dulu.

*****

Aku masuk kedalam rumah, lalu langsung menuju kamarku tanpa menyapa kakak ku yang memperhatikanku ketika aku masuk tadi. Sesampainya di kamarku, aku langsung membanting tubuhku ke kasur. Berfikir. Mengingat. Melupakan.
Aku melirik kalendar yang ada di meja pinggir kasurku, aku mengambilnya, aku melihatnya. Sudah hampir satu minggu aku dan dia berpisah, dan besok adalah hari jadi kami yang ke 3 tahun. Rasanya sayang sekali kami berpisah.

*****

Hari yang kami tunggu beberapa bulan lalu akhirnya datang juga. Hari jadi kami yang ke 3. Ini bodoh, dan meyedihkan. Dia menginginkan hari ini, tapi dia sendiri yang pergi meninggalkanku sendiri. Membuatku merasa sengsara dan terluka sendiri karena kehilangan orang yang aku cintai.
Hari ini. Hari jadi kami yang ketiga. Aku memberanikan diri untuk bertemu dengannya. Aku tidak peduli apakah dia akan menyukainya atau tidak. Sebelum menemuinya, aku pergi ke toko bunga terlebih dahulu. Aku membeli bunga yang indah untuk khari jadi kami yang ketiga, seharusnya dia yang menemuiku dan memberikan bunga untukku bukan?. Ah.. sudahlah, karena ini hari jadi kami, biarkan aku yang datang menemuinya dan memberinya bunga.

*****

Aku sampai ditempatnya. Kini, aku duduk disampingnya. Tanpa sepatah kata apapun. Aku menyimpan bunga yang aku beli di batu nisannya.
“Ini hari jadi kita” ucapku. Aku meneteskan air mata.
Satu tetes . . .
Dua tetes . . .
Tiga tetes . . .
Aku sudah tidak bisa menahan air mataku untuk tidak jatuh. Aku menangis. Sekeras yang aku bisa dan menahan agar tidak mengeluarkan suara. Aku sempat mengatakan, jika aku menemuinya mungkin dia tidak akan suka bukan? Ya, itu karena jika aku menemuinya mungkin aku akan menangis seperti ini dan dia tidak suka jika aku menangis.
“Maafkan aku karena datang kesini dengan menangis” masih dengan meteskan air mata.
“Kau bodoh. Kau yang sangat menginginkan hari ini. Tapi kau yang pergi, seakan tidak peduli dengan hari ini”
Aku menahan diriku untuk tidak menangis lagi, tapi air mata ini terus jatuh membasahi pipiku.
“Sekali lagi, maafkan aku karena menangis untuk hari jadi kita. Aku akan berusaha untuk merelakanmu. Aku berjanji tahun depan, aku akan mengunjungimu tanpa air mata.”
Sejujurnya, aku tidak yakin apakah aku bisa untuk merelakanmu, untuk melepaskanmu. Aku terlalu menyayangimu. Aku terlalu mencintaimu. Aku terlalu takut untuk pergi tanpa dirimu.
Tapi aku akan berusaha. Demi dirimu. Untuk merelakanmu pergi ke tempat yang baik dan indah. Aku akan berusaha untuk dapat memberikanmu sebuah senyuman agar dapat membuatmu bahagia dan tenang meninggalkanku.
“Terima kasih untuk segalanya yang telah kau berikan padaku. Aku menyayangimu”






Comments