Kepada yang Terindah . . .






Kutemukan diriku ditempat lain, sedang berjuang mencari keramaian, ramai.

Tapi malah terlihat lebih sedih, lebih menyedihkan.

Kusadari yang kubutuhkan bukan sebuah keramaian, melainkan sebuah kesendirian, hanya denganmu.

Disebuah keramaian tanpa hadirmu, sama saja seperti sendiri tanpamu.

Pergi untuk dicintai, tapi tidak mencintai. Sama saja seperti pergi meninggalkan orang tercinta.

Menyakiti diri karna cinta untuk cinta. Bukanlah sebuah jawaban.
Cintamu pergi. Hanya itu.



Pada kesempatan ini, aku ingin memberitahumu.

Bahwa perasaan ini, tidak dapat hilang hanya karena dirimu pergi.

Kepergianmu mengenalkanku akan sebuah rasa yang bernama kehilangan.
Kepergianmu mengenalkanku akan sebuah rasa yang bernama merindukan.
Kepergianmu mengenalkanku akan sebuah rasa yang bernama kesedihan.

Pergi karena ingin.
Kembali karena terpaksa.
Kuizinkan dirimu untuk tak pernah kembali.
Kembalimu hanya membuatku mengenal rasa lain.
Ia bernama luka.



Kembali lagi padamu, membuatku meragukan perasaanku yang sesungguhnya.

Kau yang selalu ada, menjadi tempatku untuk melarikan diri.

Kau masih membuatku bergejolak.
Namun ia, dapat membuatku bergejolak.

Perasaan yang sunyi ini, sulit untuk diartikan.
Seberapa banyak pun kata untuk menjelaskannya, tak pernah ada kata yang tepat untuk mengartikannya.

Aku mencintaimu. Aku menyayangimu. Aku merindukanmu.
Kalimat penyampai perasaan itu, bukan arti yang sesungguhnya akan perasaan itu.

Untuk malam ini aku sampaikan.
Kepada yang terindah, kelak kita berjumpa lagi.
Sampaikanlah kalimat penyampai perasaan.
Agar aku yang tak mengerti arti perasaan itu, memahami akan tujuan perasaan itu.



love, shera.




Comments