Kata mereka . . .


Entah tak peka atau memang tak punya perasaan.
Entah karena merasa biasa atau memang tak peduli. 
Entah ia yang berlebihan atau aku yang terlalu membatasi.

Mereka bilang aku sedang tak baik-baik saja, tentunya itu yang mereka pikirkan.

Mendengar berita jika ia mempunyai kekasih, tak begitu mengejutkan bagiku karena ia sebelumnya pernah membicarakan mengenai rencananya itu.
Tapi mereka, yang melihat aku dan dia begitu dekat, tak tau mengenai rencana itu, tentunya akan berpikir mungkin aku tak baik-baik saja begitu mengetahui berita itu, akan sangat terkejut dan tentu saja sakit hati.

Namun pada nyatanya, aku tak sakit hati tahu ia kini mempunyai kekasih. Tapi ternyata, aku tak baik-baik saja.

Jika aku boleh jujur, ada sedikit hentakan dalam dada begitu mengetahui berita itu.
Merasa sesak di dada karena mengetahuinya melalui postingan sosial medianya, bukan dari dirinya sendiri.
Merasa telah dikecewakan dan terkhianati.
Berpikir jika aku salah satu teman terdekatnya, tapi ternyata tidak.

Kami pernah membahas hal ini sebelumnya. Jika saja ia akhirnya memiliki kekasih, tak akan mengabaikanku dan akan terus bisa dekat denganku.
Awalnya, hal itu benar terjadi.
Kami masih sering membalas pesan, masih sering berbincang, masih sering bercanda bersama.
Namun seiring berjalannya waktu.
Aku yang kupikir baik-baik saja, tapi ternyata tidak. 
Entah tak baik-baik saja karena apa menurut mereka.
Tapi bagiku, aku tak baik-baik saja karena merasa telah dikecewakan. Merasa telah dikhianatai.
Ucapannya yang terdengar seperti janji tak akan menjauhiku meski telah memiliki kekasih, hanya sebatas ucapan.
Perlahan ia mulai menjauh. Perlahan aku mulai menjauh.

Mendengar cerita tentang kekasihnya hanya membuatku merasa kesal dan marah, dan hal itu berdampak padanya. Aku mulai tak peduli padanya, sering merasa kesal atas tingkah atau ucapannya. Lebih banyaknya, tak menghiraukannya.
Begitulah caraku menunjukkan kemarahanku.
Dengan tak menghiraukannya, tak berbicara padanya, sebisa mungkin untuk mengabaikannya.

Mereka bilang aku tak baik-baik saja. Tapi aku bilang aku baik-baik saja. Lalu mereka percaya.
Itu yang membuatku makin menyedihkan.

Aku mungkin mempercayai jika kedekatan aku dan dia itu hanya sebatas teman dekat, sahabat. Tapi mungkin mereka yang lebih mengenal, mereka yang lebih menyadari jika kedekatan itu lebih dari teman.
Sampai saat ini aku tak bisa mengubah pernyataanku jika aku dan dia hanya teman.
Tapi memang terkadang, aku merasa sedih ia sudah memiliki kekasih.
Kini ia tak bisa menjadi temanku lagi.
Teman yang mendengarkan cerita tak penting tentang hari ini, tentang apa yang sedang terjadi, ataupun hal-hal konyol yang muncul di sosial media.
Aku, kehilangan teman itu.
Teman yang benar-benar berada dekat dengan jiwaku, perlahan pergi tanpa meninggalkan apapun.

Tak ada lagi rindu yang saling diutarakan. Tak ada lagi sayang yang terasa.

Malam ini, benar-benar dingin.
Semua kenangan hangat, manis, indah itu seketika memudar tak terasa.
Membuatku lupa akan kenangan menyenangkan itu.
Semua hal yang membuat kecewa, menyedihkan, hingga menyakitkan, hanya itu yang terasa. Hanya itu yang begitu membekas diingatan. Hanya rasa sakit itu yang begitu terasa di hati.
Air mata ini, masih menetes ketika mengingatnya.

Tak terpikirkan untuk memperbaiki, tak ada niatan untuk melupakan, tak mau juga untuk mengulang waktu.
Hanya ingin pergi.

-셰라



Comments