Pada Sunyi


Malam kini tak terasa seperti malam lagi.
Aku, selalu menyukai perasaan ini.
Perasaan yang begitu melegakan saat dikeluarkan.
Air mata yang keluar akibat sesak di hati.
Aku menyukainya.

Malam ini tak seperti malam yang esok akan bertemu dengan pagi.
Malam ini terasa seperti malam yang tak bisa berhenti.

Rasa tertekan membuat diri ini ingin pergi dalam kesunyian.
Entah negara yang tak berbeda bahasa, entah pulau yang tak berpenghuni, entah kota yang sepi, atau entah malam yang panjang.
Kesendirian di tengah keramaian, tak dapat membuat tenang.
Kesunyian itu ingin aku dapatkan.

Pergi ke tempat yang jauh tanpa menghubungi atau dihubungi siapapun. Aku ingin pergi.

Lari memang bukan cara terbaik untuk menyelesaikan masalah. Namun lari kadang dibutuhkan agar dapat berpikir untuk mendapatkan cara menyelesaikan masalah itu dengan lebih baik, bukan penyelesaian atas dasar sebatas karena diperlukan melainkan atas dasar penyelesaian yang diinginkan.
Entah itu baik atau buruk, tapi "caraku adalah yang terbaik untukku".

"...
Pergi karena ingin.
Kembali karena terpaksa.
Kuizinkan dirimu untuk tak pernah kembali.
Kembalimu hanya membuatku mengenal rasa lain.
Ia bernama luka."
-kutipan dari sajak berjudul 'Bernama Luka' oleh Shera


Malam ini pukul 23.35 WIB Minggu, 12 April 2020.
Tak ada bulan di langit malam, tak ada secangkir kopi atau coklat panas di atas meja, tak ada alunan musik yang menemani.
Malam ini, ditemani dengan kesunyian malam aku bercerita tentang perasaan terpendam selama ini yang seketika muncul karena sebuah drama romance yang aku tonton.
Diakhiri dengan sepotong kutipan sajak yang aku buat, malam ini terdengar rintik hujan membentur atap rumah. Tak berlangsung lama, ia lekas berhenti ketika aku selesai menulis ini.

-셰라
puandámy

Comments