Bukan Terlambat
Yang bisa cerita tentang kisah cinta yang mungkin ga masuk akal bagi mereka, tentang sifat aku yang banyaknya ga mereka tau ataupun aku sadari, sampai cerita tentang masalah yang terjadi di perjalanan hidup aku sendiri. Yang terkadang ngerasa paling menderita daripada mereka.
Tapi, masalahnya aku gatau ke temen mana aku bisa cerita semua hal itu.
Sempet pernah akhirnya menentukan pilihan, tapi akhirnya ga juga terungkap.
Cerita itu masih hanya aku yang tau, hal bodoh itu masih aku pegang sendirian.
Masih selalu bersikap seolah yang paling menderita dan yang paling membutuhkan bahu sandaran.
Masih seringkali merasa tak punya teman, padahal itu terjadi karena salah sendiri karena kurang terbuka sejak awal.
Merasa sudah terlambat karena aku baru menyadari jika harus terbuka pada mereka. Sering juga menyalahkan diri sendiri memiliki kepribadian seperti ini, tapi sering juga mengagumi diri sendiri karena telah memiliki kepribadian seperti ini.
Kadang merasa diperlakukan tak adil, kadang juga merasa terlalu diperlakulan istimewa.
Kadang juga merasa terbebani akan hal itu. Istimewa? Aku? Apa iya? Apa yang bisa aku lakulan? Aku sekarang seperti ini, tak seperti yang lain yang sudah banyak melakulan hal di usia yang sama denganku. Sering merasa iri, sering ingin berkeluh kesah, rasanya masih tak ada orang yang membuatku ingin bersandar sejauh itu.
Masalahnya masih sama, alasannya selalu sama. Selalu dengan perkataan "belum menemukan orang yang bisa membuatku dengan santai bercerita masalah pribadiku." Padahal itu hanya akunya yang terlalu tertutup pada orang-orang.
Sebenarnya aku juga tak tau apa yang membuat diriku begitu tertutup pada seseorang selama ini, karena saat ini aku begitu menginginkan dan membutuhkan keterbukaanku untuk bercerita pada seseorang, siapapun itu. Namun, ia yang selalu ada, ia yang tak akan meninggalkan. Tak meninggalkan, -kau mengerti maksudku-.
Tapi kemudian, pikiran positifku kembali muncul.
"Bukan terlambat, hanya saja belum waktunya."
-sh
Comments
Post a Comment