Luka yang Lain
Bagaimana caranya aku berhenti untuk menangis.
Ini terlalu menyakitkan.
Terlalu menyakitkan hingga mampu membuatku tak bisa berkata-kata.
Tak ada kata-kata yang bisa menjelaskan rasa sakit ini.
Seseorang yang telah pergi dari hidupku tak kusangka akan begitu sangat berarti dan selalu menjadi bahan pertimbangan bagiku saat ini.
Tak kusangka jika ternyata luka ini sangat dalam dan besar bagiku.
Mungkin karena ia sangat dalam hingga tak pernah aku ketahui hingga ia tersentuh.
Terlalu menyakitkan untuk dibahas, terlalu menyakitkan untuk dipendam, terlalu menyakitkan diketahui.
Semua orang membuka mata dan telinga mereka dan tak masalah dengan hal itu.
Tapi mengapa aku tidak begitu?
Itu membuatku bertanya-tanya.
Dan terkadang pertanyaan itu membuatku semakin bertanya-tanya.
Kenapa aku harus menyukainya?
Aku terluka, aku tersakiti, aku merasa sedih, aku kembali merasa "apakah jika aku tidak ada semua hal yang terjadi ini akan lebih mudah bagi semuanya? bahkan bagiku."
Aku kecewa?
Aku pikir tidak.
Tapi aku sangat marah, sangat kesal, sangat tersakiti.
Ia yang 'sedang' tersakiti, obat apapun itu tak akan pernah bisa menyembuhkannya.
Aku ingin berbagi cerita ini, dan hanya disini aku nyaman membicarakannya.
Tak ada orang yang benar-benar mengerti aku selain diriku sendiri.
Luka ini bukan luka yang begitu hari esok tiba lalu luka itu hilang begitu saja.
Luka ini membawa sakit bahkan hingga hari esok.
Ini pertama kali aku merasakannya.
Sebelumnya aku tak pernah benar-benar membawa sebuah perasaan pada kemudian hari.
Ini berbeda.
Aku benar-benar ingin menyelesaikan ini dengan akhir semua merasa bahagia.
Perasaan ini, luka ini, rasa tersakiti ini. Tak akan pernah sembuh jika terus dilanjutkan seperti ini atau bahkan lebih.
Aku tau itu.
Ini luka karena orang yang dicintai dan untuk orang tercinta.
Aku yakin jika aku tak akan pernah bisa menerimanya.
Perubahan itu perlu, tapi itu tak selalu harus memerlukan pihak ketiga.
______
Sabtu, 5 Juni 2021
21:05 WIB
Comments
Post a Comment