yang ditinggal, tertinggal
Semua tak lagi sama.
Semua sudah berbeda.
Ia yang pergi, meninggalkan mereka yang berdetak.
Ia yang pergi, tak lagi peduli pada mereka yang berdetak.
Ia yang berdetak.
Bernafas, berjalan, berubah.
Ia yang berdetak, ditinggal. Tertinggal.
Penyesalan membuatnya merasa terus ditinggal.
Belum selesai dengan lukanya, ia kembali diberi luka.
Luka yang masih basah, akan terasa lebih menyakitkan ketika ia kembali di sentuh.
Namun luka yang masih basah, akan terasa jauh lebih menyakitkan ketika ia kembali terluka.
Namun luka yang masih basah, akan terasa jauh lebih menyakitkan ketika ia kembali terluka.
Luka yang tak jarang terus dicoba untuk diobati, tak jarang juga luka itu terus di sentuh.
Ia ditinggal.
Lalu,
Ia kembali ditinggal. Rasanya.
Kali pertama benar-benar ditinggal pergi.
Kali kedua rasanya ditinggal pergi.
Entah apa yang salah.
Tapi yang pasti, aku yang salah.
Penuh dengan penyesalan.
Penuh dengan dosa.
Penuh dengan luka.
Terlalu merasa dirinya yang paling terluka.
Terlalu merasa dirinya yang paling perlu bahagia.
Terlalu merasa dirinya yang paling perlu diperhatikan.
Padahal, mereka yang sesekali pergi meninggalkan juga merasakan hal yang sama. Atau mungkin lebih buruk lagi.
Aku egois, ia egois, dia egois.
Terlalu cepat menutup luka yang tak pernah diobati dengan seharusnya.
"Yang penting tak terlihat", "Yang penting harus cari kebahagiaan", "Yang penting harus cepat-cepat melupakan"
Tidak.
Itu semua salah seharusnya.
Ia yang terluka tak seharusnya mengobatinya dengan hal yang seperti itu.
Rasakan sakitnya.
Pelajari lukanya.
Sembuhkan dengan obat yang seharusnya.
Tapi ia yang ditinggal, malah menutupnya dengan memberikan luka lain pada orang disekitarnya.
Tak salah mencari kebahagiaan, tak salah mendapatkan kebahagiaan.
Tapi ia yang kembali diberi luka atas hal itu, apa ia menemukan kebahagiaan itu? apa ia mendapatkannya?
Mereka yang ditinggal, juga merasa tertinggal.
Comments
Post a Comment