i know at the first sight
Entah ini perasaan apa.
Rasanya kaya berdosa, tapi rasanya kaya selalu bener.
Itu pertemuan pertama, atau lebih tepatnya itu pertama kali aku lihat dia. Tapi rasanya, rasanya aku tahu gimana kisah cinta aku akan berakhir.
Seperti kisah cinta di film-film atau drama-drama, seperti kisah cinta pada pandangan pertama, seperti kisah cinta pertama dan terakhir.
Rasanya aku tahu dia beda dari yang lain.
Perasaan yang waktu itu muncul tiba-tiba, yang aku kira hanya sebatas 'menarik' tapi ternyata dia menarik aku sampai sejauh ini. Sampai jatuh sedalam ini, sampai merasa ga ada yang lain selain kamu yang ada di hati ini.
Aku ga tahu ini benar atau salah, atau hanya sebatas tidak benar tapi juga tidak salah.
Tapi kenapa. Kenapa setelah sejauh ini, setelah sekian lama, aku baru sadar perasaan ini. Perasaan yang ternyata sudah tertanam yang rasanya memang waktu itu adalah bibitnya.
Aku hanya punya satu lahan, dan aku hanya menabur kamu di lahan itu.
Ia layu, ia rusak, ia kering.
Tapi, dia masih ada.
Masih hidup, dan tak pernah mati.
Sempat aku kira ia akhirnya mati juga, dan mungkin ini saatnya aku menanam bibit baru.
Menerima dengan lapang dada bahwa akhirnya ia mati.
Tapi semakin lama melihat itu kering, menunggu sampai itu benar-benar hancur.
Hujan turun. Turun dengan sangat lebat.
Daun yang kering, tangkai yang hampir jatuh, tiba-tiba kembali bersemangat.
Tangkainya kembali kuat karena akarnya kembali diberi air, daunnya tumbuh daun baru, namun bunganya dengan susah payah mulai muncul kuncup.
Ia kembali tumbuh, tapi dengan susah payah.
Bersakit-sakti dahulu katanya.
Bersenang-senang kemudian harusnya.
Aku tahu di pandangan pertamaku.
Rasanya aku tahu. Sekarang.
Entah ini sugesti atau apa.
Tapi kenapa ini susah banget.
Aku ga pernah mengira akan memiliki perasaan yang begitu lamanya pada seseorang.
Entah ini memang pilihan atau memang perasaan aku yang merasa begitu. Tapi dia tak pernah terganti, bahkan ketika aku pikir aku bisa bersenang-senang dengan orang lain, tapi untuk melepasnya itu tak pernah bisa.
Bukan hal yang diluar kemampuanku, tapi jika hati ini dipadukan dengan otak ini, mungkin ini memang pilihan. Ini pilihanku untuk memilihnya, pilihanku untuk jatuh cinta padanya, pilihanku untuk mempimpikan masa depan dengannya.
Aku yang berpikir aku akan sakit hati jika dia memiliki kekasih, namun saat itu terjadi aku merasa baik-baik saja.
Aku yang berpikir akan baik-baik saja ketika ia memiliki kekasih, namun saat itu terjadi aku tak merasa baik-baik saja.
Ternyata, itu menyakitkan. Ternyata, itu menyedihkan. Ternyata, banyak yang aku sesali kerena tak pernah mencoba denganmu.
Dulu aku pikir itu hanya sebatas cinta pada pandangan pertama saja. Tapi ternyata itu lebih dari itu.
Aku baru sadar. Saat itu aku sudah yakin bahwa pria itu, kamu. Akan selalu menjadi pilihan utamaku. Selamanya, seterusnya, tak ada yang lain.
Namun...
Yang menjadi pertanyaan dari semua hal ini adalah.
Apakah dia juga merasakan hal yang sama???
Setauhu, tidak.
Comments
Post a Comment