Single In The City
Malam ini setelah sekian lama aku menonton film bergenre romantis, atau mungkin bukan itu genrenya karena rasanya tidak seromantis yang aku bayangkan ketika mendengar kata "film romantis", bisa dikatakan film ini lebih pada film melodrama yang romantis.
Single In Seoul.
Film ini menceritakan tentang seorang pria yang sudah lama menjalani hidup sebagai seorang "single" di kota Seoul yang kemudian mendapat tawaran untuk menulis sebuah buku esai oleh salah satu penerbit buku tentang kehidupannya sebagai seorang "single" di kotanya. Selagi ia mempersiapkan tulisannya, ia berkomunikasi langsung dengan seorang wanita yang merupakan editor dari penerbit buku tersebut yang juga merupakan adik kelasnya semasa kuliah. Karena seringnya mereka bertemu, perlahan perasaan sang pria semakin terlihat pada sang wanita tersebut. Ada suatu waktu perasaan mereka terlihat jelas, namun tidak ada kejelasan hubungan mereka dalam film itu.
Alur ceritanya bukan cerita yang membuatmu berdebar kencang atau berteriak kegirangan.
Film itu membuatku merasakan hal lebih dalam dari itu. Ia memberikan sebuah ketenangan tapi juga emosional yang hanya dapat dirasakan di dalam hati.
Itulah yang aku rasakan saat ini.
Film ini memberiku perasaan yang tak bisa aku jelaskan. Atau biasa aku menyebutnya 'tak ada kata yang bisa menjelaskan perasaan ini'.
Ada sebuah degupan tapi tidak menggebu, ada awan semu tapi tidak mendung, ada kesenangan tapi tidak benderang.
Satu hal yang aku tahu pasti, setelah menonton film ini hasratku untuk menulis seketika muncul.
Selain karena filmnya yang menceritakan tentang seorang penulis, tapi juga karena ia memberikan perasaan yang tak bisa aku jelaskan ini. Seketika banyak hal yang aku pikirkan sehingga memunculkan banyak perasaan yang selama ini tersimpan.
Salah satunya, sebuah hubungan.
Aku tak pernah benar-benar bercerita tentang sebuah hubungan, karena pada nyatanya aku memang belum pernah memiliki sebuah hubungan dengan siapa pun.
"Kisah cinta" dan perasaan-perasaan yang aku ceritakan selama ini, tidak itu bukan sebuah kebohongan, itu sebuah kenyataan tentang aku yang hanya menyukai sebelah tangan.
Jatuh cinta yang pertama, yang membuatku mabuk kepayang, yang membuatku tak bisa berhenti.
Terus mengharapkan satu orang, mengharapkan sebuah keajaiban, mengharapkan sebuah kisah cinta yang sempurna dimana aku hanya butuh jatuh cinta satu kali dan cinta itu akan berlangsung selamanya, bersamanya.
Tapi ternyata aku salah.
Aku salah karena berpikir ia akan jatuh cinta padaku seperti aku yang jatuh cinta padanya.
Ternyata kisah cintaku tak se-sempurna itu.
Ternyata aku memang tak se-istimewa itu.
Semakin aku menyadari akan perasaanku yang mungkin tak akan pernah bisa terbalaskan. Aku mulai melupakan hal yang bernama 'move on' dan mulai melakukan hal yang bernama 'merelakan'.
Terdengar sepele bukan?
Tapi jika kalian tahu bagaimana kedua hal itu bisa berbeda, kalian juga akan tahu mana yang lebih menyakitkan.
Mungkin pengartianku akan dua hal itu berbeda dengan kalian sehingga aku merasa dua hal itu jelas berbeda.
Bagiku 'move on' adalah sebuah proses melupakan dan menerima jika orang itu bukan untukmu.
Sedangkan 'merelakan' adalah sebuah perilaku dimana kita menahan perasaan kita dan melepaskannya untuk bersama orang lain.
Aku yang tak pernah terpikirkan akan kata itu sebelumnya, pada suatu hari tiba-tiba terbersit dan langsung meneteskan air mata.
Ternyata merelakanmu lebih menyakitkan daripada mengetahui jika kau sudah memiliki orang yang kau cintai.
Proses merelakan itu tak bisa aku bilang sebentar tapi juga tak bisa aku bilang lama, karena terkadang ia masih suka muncul dipikiranku tapi memang tak sesering sebelumnya. Ia tiba-tiba melesat dan menyayat hatiku, lalu esok kembali normal, lalu lain hari terkadang melesat lagi, lalu esoknya kembali biasa lagi.
Namun seiring berjalannya waktu, kehampaan tanpa "hadir" nya sudah tak terasa hampa lagi.
Entah karena sudah menjadi biasa atau aku sudah mati rasa.
Atau entah karena kehidupanku yang terasa banyak keinginan.
Membuat kegiatan kesukaanku menjadi tugas yang belum selesai.
Menulis, menonton, menggambar, mendengarkan lagu.
Mereka tak membuatku memunculkan hasrat untuk melakukan salah satu diantaranya.
Mereka menjadi sebuah tugas yang memiliki tenggat waktu.
Waktu luang yang terasa terbatas membuatku tak bisa sesuka hati melakukan mereka sepuasnya.
Oleh sebab itu aku terkadang mengatur jadwal untuk melakukan mereka secara bergantian.
Namun hasilnya, nihil. Terkadang pada waktunya tiba tubuhku tidak ingin melakukannya, sehingga hasrat untuk membuat hal itu menyenangkan pun tidak ada. Maka daripada aku tidak senang melakukannya, lebih baik aku tidak melakukannya. Tapi ketika aku sudah melewatkannya, aku menyesal karena membuang waktuku karena tidak melakukan hal kesukaanku.
Hal ini terus berputar dipikiranku, kejadian yang masih terus terulang dan terulang. Mencari jalan untuk mencapai dan menikmati setiap waktu yang terpakai agar terasa seperti sedang melakukan kegiatan kesukaanku.
Jujur, sebenarnya aku sudah tahu apa jawaban jelasnya dari kekhawatiranku itu, namun jawaban jelas itu masih membuatku merasa takut untuk mengambilnya.
Orang yang ingin aku sandari agar mempercayai keputusan terburukku malah mematahkan harapanku untuk mendapatkan hal yang aku inginkan. Alasannya karena takut jika itu adalah hal buruk dan merugikanku.
Tapi justru, karena itulah aku membutuhkan dukungan.
Dukungan bahwa hal buruk apapun yang menimpaku, ia tetap ada disisiku.
Namun sepertinya kehidupan nyataku memang tak seindah di film-film.
Dorongannya bukan membuatku semakin semangat, namun malah mematahkannya.
Mungkin aku terdengar egois, tapi dari banyaknya manusia kenapa dia yang sering mematahkan keinginanku dan tidak bisa memberiku rasa aman atas hasil potongannya itu. Bukankah setidaknya aku pantas menerima penjelasan atas potongan itu?
Itulah terkadang yang membuatku tertutup dan tak ingin mengatakan pendapatku.
Karena belum apa-apa sudah dipatahkan. Mau bagaimana?
Hari-hariku kini sedang terasa semu.
Tak ada yang benar-benang membuatku berbedar.
Namun untuk hari-hari kedepannya, aku menginginkan sebuah karir yang bisa membuatku berdebar setiap harinya, yang membuatku tak pernah takut untuk menghadapinya, yang membuat perasaanku terasa menyenangkan menjalani hari-harinya, yang membuatku bahagia menjalaninya, yang membuat kehidupanku menjadi lebih baik, menyenangkan dan bahagia.
Comments
Post a Comment