Home Sweet . . .
Minggu, 16 Februari 2025
Kalian mungkin tahu sama film yang berjudul 'Home Sweet Loan'. Kisah tentang perjuangan Kaluna untuk mendapatkan impiannya akan sebuah rumah.
Tapi disini aku ga bercerita tentang Kaluna, atau tentang Home Sweet Loan. Aku ingin bercerita tentang Rumah.
Selama ini aku hanya menganggap Rumah adalah sebuah tempat bernaung orang-orang dari cuaca, dari mahluk hidup lain, atau hanya tempat untuk berlindung. Tempat beristirahat, tempat pulang untuk kembali melewati hari esok di luar rumah lagi.
Dulu, aku tak pernah mengerti apa maksud dari kalimat 'Home Sweet Home', karena saat itu aku tak pernah merasa rumahku terasa manis dalam hari-hariku, yang aku tahu itu hanya sebuah rumah, 'Home'.
Dulu mungkin umurku yang masih muda, dan pemikiranku yang masih belum banyak tahu akan makna sebuah kalimat yang ternyata bisa begitu dalam jika diartikan.
Kini aku mengerti maksud dari kalimat 'Home Sweet Home'.
Namun menurutku arti dari kalimat itu bisa berbeda makna bagi setiap orang. Mereka mempunyai standar sendiri akan makna dari kalimat itu.
Tahun 2021 banyak hal yang terjadi di hidupku. Aku tak pernah benar-benar memikirkan kapan tepat kejadiannya, namun setelah aku pikir-pikir lagi perubahan dalam hidupku terjadi di tahun 2021. Ketika umurku 22 tahun, ketika aku merasa pion pion kehidupanku telah dirampas. Merasa banyak kehilangan sesuatu yang sebelumnya sudah ada namun tak pernah begitu aku hiraukan karena merasa ia akan bertahan selamanya. Waktu disaat aku merasa bahwa kejadian itu bisa saja tak terjadi.
Dua kejadian besar yang merubahku, dan kehidupanku di rumah.
Kejadian pertama adalah kejadian yang berperan penting dalam perubahan diriku, terutama di rumah. Aku menjadi lebih terbuka. Karena aku menyesal tidak melakukannya dari sebelum-sebelumnya. Melewatkan banyak cerita yang baru aku sadari itu bisa membangun hubungan kami lebih baik dari saat itu.
Kejadian kedua adalan kejadian yang paling membuatku tak ingin membicarakannya, atau bahkan tak ingin itu pernah terjadi, bahkan hingga saat inipun aku masih mengharapkan hal itu tak pernah terjadi. Kejadian yang membuatku merasa rumah tak lagi seperti Rumah. Banyak yang aku sayangkan dari kejadian ini, namun banyak hal juga yang tak bisa aku lakukan atas kejadian ini. Karena pada akhirnya, hanya aku yang merasakan hal itu, tidak dengan orang rumah yang lain.
Membacanya pun seperti tak adil bagiku bukan? Atau mungkin tidak? Tapi begitu yang aku rasakan, rasanya seperti aku yang merasa tak nyaman, rasanya hanya aku yang ingin kembali seperti dulu, atau paling tidak cukup kami tanpa variabel lain.
Setelah kejadian kedua terjadi banyak hal yang aku sadari yang sebelumnya belum pernah aku sadari.
Seperti, ternyata aku cukup menyayangi orang yang mendahuluiku ini, ternyata aku masih membutuhkannya, ternyata aku tak pernah ingin kehilangannya, ternyata rumah terasa menyenangkan jika ada dirinya. Namun rasanya kenapa seperti hanya aku yang merindukannya.
Banyak penyesalan yang aku rasakan setelah kepergiannya. Kenapa aku begitu dingin, kenapa aku tak mengungkapkan perasaanku, kenapa aku tak berbincang banyak hal dengannya.
Diumurku yang sudah menginjak 26 tahun ini, rasanya baru kemarin aku kehilangannya. Umurku tertahan di 22 tahun. Aku tak ingin ini berlalu, aku harap bisa mengulang waktu.
Rumahku yang kemudian menjadi terasa tak seperti rumah membuatku semakin merindukannya.
Ternyata rumah terasa seperti rumah ketika ada orang yang kau sayangi menunggumu pulang. Namun ketika muncul variabel lain disana, kamu merasa tak seperti pulang ke rumah. Tempat yang seharusnya menjadi tempatmu melepas lelah, malah menjadi tempat dimana kamu harus siap karena ada hal lain disana saat kamu pulang.
Kejadian ini tak pernah aku lupakan.
Aku tak tahu tentang masa depan.
Tapi saat ini aku masih menangis jika menceritakan hal ini.
Banyak perasaan yang belum pernah aku rasakan pada kejadian ini.
Mungkin tak semua perasaan itu aku utarakan secara terbuka.
Maka yang aku sembunyikan, aku yang akan mengaturnya sendiri.
Comments
Post a Comment